Temukan Sejarah Angkatan Udara Indonesia di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

https://wandirana.wordpress.com/

TNI Angkatan Udara (AU) lahir pertama kali di Jogjakarta dan memiliki peran penting sebagai salah satu pilar perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kita bisa melihat koleksi benda bersejarah miliki TNI AU secara lengkap di sebuah museum, bernama Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Terletak di Jogjakarta dan berdiri di atas lahan 4,2 Ha dengan luas bangunan 8,765 meter persegi.

Museum TNI AU diresmikan oleh Panglima AU Laksamana Roesmin Noerjadin pada tanggal 4 April tahun 1969.

Koleksi museum yang menjadi sorotan utama adalah pesawat terbang yang digunakan  pada masa kemerdekaan Indonesia.

Museum ini didirikan bertujuan untuk mengumpulkan beragam catatan peristiwa dan benda-benda yang berkaitan dengan TNI AU.

Lokasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Awalnya museum TNI AU berada di Jakarta namun dengan pertimbangan yang baik, akhirnya museum dipindahkan ke Jogjakarta sebagai titik awal lahirnya Angkatan Udara Indonesia.

Museum TNI ini berada di area Kompleks Lanud Adisucipto, Jl. Kolonel Sugiyono Karang Janbe  Banguntapan Bantul DIY.

Museum buka setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore.

Jangan lewatkan Kunjungi Museum Affandi Jogja dan Temukan Karya Terbaik Maestro Indonesia

Harga Tiket Masuk Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Tiket yang tersedia di museum berlaku bagi para wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Harga tiket yang harus kita bayar adalah Rp. 3000 per-orang dan Rp. 2000 per-orang untuk rombongan.

Fasilitas parkir yang luas juga didukung dengan harga sewa parkir sebesar Rp. 30.000 untuk mobil bus dan Rp. 20.000 bagi minibus.

Fasilitas Beserta Daya Tarik Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

https://www.tribunnews.com/

Simak beberapa fasilitas yang bisa menambah rasa ingin tahu kita terhadap sejarah TNI AU Berikut ini:

1. Koleksi pesawat yang menakjubkan

Kita akan melihat setidaknya 38 koleksi pesawat dalam bentuk dan warna berbeda, baik berupa pesawat sipil maupun pesawat tempur.

Tersedia pula beberapa item lain salah satunya adalah display senjata tajam, mesin pesawat, parasut dan alat tempur.

Museum juga dilengkapi dengan display koleksi foto maupun lukisan, tanda kehormatan dan pakaian dinas.

Terdapat beberapa jenis pesawat yang bersejarah luhur sekaligus saksi terjadinya penjajahan Jepang maupun Belanda, diantaranya adalah:

  1. Pesawat Dakota VT-CLA yakni pesawat dari maskapai penerbangan India yang jatuh akibat tembakan pasukan Belanda. Sebelumnya pesawat ini hendak mendarat di daerah Maguwo atau Maguwoharjo di Sleman.
  2. Pesawat Guntei yang memiliki sayap ganda adalah pesawat bekas Jepang, kemudian digunakan oleh rakyat Indonesia untuk melakukan pengeboman pertama. Kejadian ini ditandai sebagai butir sejarah TNI AU.
  3. Pesawat Mustang adalah pesawat yang pernah digunakan untuk menggempur Permesta di kawasan Indonesia Timur.

Baca juga Abadikan Momen Indah di Upside Down World Jogja

2. Merasakan sensasi naik pesawat

Museum TNI AU menyediakan fasilitas bagi kita untuk mencoba menaiki pesawat bersejarah ini.

Kita juga diperbolehkan memakai peralatan dan perlengkapan ala pilot, seperti pakaian dinas ketika para penerbang sedang mengemudikan pesawat.

3. Wahana simulasi penerbangan

Apabila kita semakin tertarik dengan dunia penerbangan dari TNI AU, maka kita wajib mengikuti  salah satu fasilitas dari Museum yaitu simulasi penerbangan pesawat.

Terlebih dahulu pemandu akan memberi arahan singkat tentang fungsi setiap kemudi.

Selanjutnya kita bisa berperan sebagai pilot dan seolah sedang melakukan penerbangan pertama. Menarik, bukan?

Mengetahui dan mencintai sejarah bukanlah sebuah tindakan yang salah, tapi justru akan melestarikan kekayaan yang sudah ada.

Kunjungi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala bersama keluarga dan teman-teman sebagai bentuk cinta kita terhadap sejarah Angkatan Udara Indonesia.

Kunjungi juga yuk Pesona Desa Wisata Nglinggo Kulon Progo

Reply